Bentuk empati yang paling mengemuka dijagad maya pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah ‘’ODGJ dan Depresi bukan karena kurang iman’’...pendapat ini mungkin bisa benar, bisa juga tidak sepenuhnya benar.
Jika melihat dari penyebab depresi atau (ODGJ) yang bermacam2...mulai dari bawaan genetik, ketidak seimbangan senyawa kimia otak, akibat kecelakaan atau karena penyakit tertentu yang pada akhirnya mengganggu saraf, tentu pendapat tersebut benar.
Namun, jika melihat penyebab depresi karena beban pikiran atau beban hidupan yang akhirnya menginduksi OGDJ, tentu pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.
Berkembang juga spekulasi bahwa wanita sholehah sekelas Maryam pun bisa depresi ketika beliau hamil tanpa suami dan dihujat oleh kaumnya, lalu mengeluh kepada Allah, ‘’andai aku mati sebelum ini...’’
Atau sekelas para nabi seperti nabi zakaria, betapa terguncangnya ketika istrinya dihujat oleh kaumnya sebagai wanita mandul, atau nabi ya’kub, betapa hancurnya beliau kehilangan nabi Yusuf, sampai matanya buta, atau Rasulullah SAW sendiri, betapa terguncangnya beliau saat wahyu tidak kunjung turun setelah peristiwa di gua hiro
Menganggap bahwa ‘’orang beriman tidak boleh stress atau berkeluh kesah’’ itu yang kurang tepat...karena Allah sendiri yang mengatakan bahwa sifat manusia adalah suka berkeluh kesah. Terguncang dengan cobaan besar dalam kehidupan kita adalah hal yang lumrah, tapi bagaimana agar dapat cepat kembali dari guncangan itu...disanalah peran iman.
Apakah Maryam as, nabi Zakaria as, nabi Ya’qub as dan Rasulullah Saw menjadi ODGJ atau sampai bunuh diri?... tidak, walau dalam goncangan besar, mereka tidak mungkin melewati batas2 yang telah ditetapkan Rabbnya
Menurut para ahli, stres terdiri atas 3 fase, yaitu fase penyesuaian, fase pemulihan dan fase memperbaiki diri. Fase satu dan fase dua adalah fase yang aman dan baik untuk meningkatkan vitalitas kerja, jadi stres tidak selalu buruk. Olah raga secukupnya termasuk memanipulasi stres ringan yang menguntungkan bagi tubuh.
Fase ketiga adalah fase rawan, ketika tubuh belum juga sanggup memulihkan diri kekondisi normal pada fase ini, maka dapat menyebabkan terjadinya kerusakan organ, jika terjadi terus menerus dapat berkembang menjadi depresi berat atau ODGJ. Sampai disini, kita tidak lagi dapat bicara kurang iman, karena sudah masuk ranah medis.
Makna kurang iman pada hakekatnya dapat dimaknai sebagai ‘’belum tuntasnya seseorang menemukan jati dirinya dan memaknai kehidupannya’’.
Ketika himpitan kehidupan datang, mereka tidak punya alasan untuk mempertahankan kehidupan dan tidak punya pegangan atau tempat menggantungkan harapan...sehingga pertahanannya mudah goyah, coping stress tidak berhasil diselesaikan dalam internal diri, menyebabkan gangguan saraf dan gangguan metabolisme yang berakhir pada diagnosa mereka sebagai ODGJ atau keinginan bunuh diri
Kemampuan setiap orang dalam menghadapi stressor berbeda-beda, tergantung jg pada tingkat kesehatan, ilmu, pola asuh, iman, dsb... dan lagi-lagi orang beriman didoktrin bahwa Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kesanggupannya....
pada dasarnya manusia disiapkan untuk menghadapi berbagai ujian dalam kehidupannya, baik dari segi fisik atau ibarat komputer adalah hardwarenya dengan perangkat penangkal stress yang lengkap, seperti hormon dan saraf, sedang dari segi softwarenya dengan menginstal berbagai doktrinan pahala dan dosa dalam ajaran agama. Ketika seseorang diberi sebuah cobaan, berarti dia mampu menanggungnya...
Jadi peran iman bukan tidak ada untuk ODGJ dan Tidak selalu ODGJ karena kurang iman, semua terjadi karena faktor yang komplek
Mungkin bisa menjadi bahan evaluasi dalam pengasuhan dan menjaga hubungan dg orang lain.
Kita tidak pernah tau serapuh apa pertahanan internal setiap orang, yg jelas seutas senyum dan sedikit sapaan, kadang dapat menghapus luka yang dalam.
Mungkin itu hikmah dibalik senyum dan wajah yg ramah sebagai sedekah
Wallahualam,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar