Sabtu, 23 November 2019

Renungan: Para Pencari Nafkah

@icelusiamarta

Memandang sepanjang perjalanan dari bogor, sangat terharu menyaksikan perjuangan para pencari nafkah..ditengah terik mentari menjajakan air
Mineral, cendol, kacang goreng, tahu sumedang dan sebagainya,,

Ketika hujan turun, tiba-tiba berubah menjadi penjual jas hujan dadakan, dg basah kuyup menjajakan jas hujan plastik kepada orang-orang yang sedang lalu lalang..

Hayalan ku,, sore hari bapak itu pulang ke rumah..didepan pintu disambut senyum manis istrinya, lalu disuguhi teh hangat dan singkong goreng,, dan merekapun saling bercerita dan tertawa bersama... ☺☺,,,(kadang bahagia itu sederhana dan tak bersyarat, namun seringkali kita yang menjadikannya rumit dan penuh syarat, dg harus ada ini itu dan harus begini dan begitu).

Kembali pada perjuangan pencari nafkah, bagaimana tidak Islam mensejajarkan mencari nafkah yg halal dg jihad dimedan perang bagi para suami... dan istri dinilai dari rasa syukur terhadap suaminya...

Mencari nafkah bagi para suami juga dapat menghapuskan dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan amal sholeh yang lain.

Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Islam tidak menilai besarnya nominal yg diperoleh dalam mencari nafkah, namun yg menjadi nilai adalah “niat dan proses” dalam memperolehnya..sedang hasil adalah ketentuan Allah yang telah tertulis sejak awal mula manusia diciptakan.

Setiap manusia tidak akan meninggal sebelum habis rizki yang telah Allah tetapkan baginya.
Rasulullah s.a.w bersabda:
“ Sesungguhnya roh al-Qudus telah datang kepadaku memberitahu, bahwa seseorang itu tidak akan mati selagi belum sempurna rezeki dari Allah kepadanya ...” (Riwayat Ibn Majah dan al- Tabrani)

Sehingga dapat dipahami sebenarnya Islam tidaklah memandang kaya dan miskinnya seseorang, karena sudah ada ketetapannya...manusia menjadi kaya bukan karena kecerdikan dan kepintarannya, melainkan karena ketetapan Allah atasnya dan Allah mudahkan jalan rizkinya...betapa banyak kita saksikan orang-orang yang secara kasat mata lemah, tapi berlimpah harta dan sebaliknya.

Yang menjadi nilai dalam Islam adalah niat dan proses dalam mencari nafkah...lurusnya niat dengan meniatkan segala aktivitas dalam rangka ibadah kepada Allah.... dan proses yang benar (sesuai ketentuan Islam) dalam mencari nafkah.

Mencari nafkah dalam Islam hanyalah rangkaian ibadah yang dilekatkan pada suami dan nilai ibadah tersebut tidak ada kaitannya dengan nominal yang dihasilkan.

Islam hanya menyuruh untuk berusaha, bekerja dengan segala kemampuan yang ada dan janji Allah akan menurunkan jumlah rizki yang telah ditetapkan Allah atas kita,,,.

Islam tidak memandang banyaknya harta karena miskin dan kaya tidak menjadi jaminan syurga bagi seseorang. Para sahabat nabi sering khawatir ketika mereka berlimpah harta seperti Abdurrahman bin auf...beliau khawatir kalau-kalau Allah menghabiskan nikmat untuk beliau di dunia dan tidak ada bagian lagi diakhirat,,setiap mau makan teringat syahidnya Mus’ab bin umair di perang uhud, beliaupun tidak jadi makan dan berkata” Mus’ab bin Umair lebih baik dariku, namun tak ada satu helai kain kaffanpun untuk menutupi tubuhnya”

Sejarah Islam telah menorehkan bahwa kemiskinan tidak menghalangi seseorang dari syurga. Sebut saja Bilal, seorang bekas budak yang karena amal sholeh beliau, bunyi terompahnya terdengar disyurga..

Riwayat dari HR Tirmidzi menyebutkan:
“Pada suatu pagi, Rasulullah Saw memanggil Bilal seraya berkata, ‘Hai Bilal! Dengan apa engkau mendahuluiku ke surga? Tidak lah setiap kali aku masuk surga, kecuali aku mendengar suara terompahmu di hadapanku. Tadi malam aku juga masuk surga, dan akupun mendapatkan suara terompahmu di hadapanku.’'

atau Luqmanul hakim seorang penggembala atau ada juga yg mengatakan seorang budak berkulit hitam, namun namanya diabadikan Allah dalam Al quran (Surat Luqman) dan menjadi rujukan ilmu2 parenting modern.

Maka....dari semua itu kita belajar,,,kita tidak perlu mengkhawatirkan yang telah dijamin (rizki), yang perlu dikhwatirkan adalah yang belum dijamin (amal)...

Semoga Allah membantu kita memperoleh rizki yang halal dan barokah... Amiiin ya Rabb

“Dariku manusia tertawan dosa, lg Faqir Ilmu”

Bogor, 22 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Cahaya Hati Guru Kami.... Cahaya Hati Kami Menjadi Pelita dalam kegelapan Jalan Menjadi Penerang dari ke Jahilan Awalnya kami hanyalah Man...